Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Kendari, Moch. Safruddin menyampaikan, di masa modern ini sudah banyak beragam cara membangunkan sahur, pada dasarnya cara membangunkan sahur itu sudah ada sejak dulu.
"Seperti yang disampaikan Syekh Athiyah dalam fatwa Al-Azhar 8/284: berjalan keliling, mengumumkan di masjid, melantunkan syair-syair, lentera. dan menggunakan lentera," ungkapnya, Sabtu (24/4/21).
Ia juga menjelaskan, boleh membangunkan orang sahur melalui toa, tetapi baiknya dengan cara yang santun.
"Boleh-boleh saja membangunkan orang yang untuk sahur melalui toa, namun harus dengan kata-kata yang santun, pun tidak menggunakan kata-kata yang dapat melukai dan menyinggung orang lain," ujarnya.
Safruddin melanjutkan, membangunkan sahur sebaiknya memperhatikan waktu dan kondisi sekeliling, karena negara ini adalah negara toleran dalam beragama.
