Dominasi Bournemouth di Vitality

Bournemouth mendominasi sejak awal pertandingan dalam kondisi hujan di pantai selatan Inggris. Mereka menekan Milan tanpa henti dan menyerang dengan tempo tinggi, sementara tim tamu kesulitan keluar dari tekanan. Peluang-peluang terus tercipta, termasuk tembakan Kluivert yang melebar tipis setelah sepak pojok pendek pada menit ke-57. Sundulan pemain pengganti Rayan dari umpan silang Ben Gannon-Doak juga melayang di atas mistar pada menit ke-67.

Milan sebenarnya sempat mencoba bertahan dan mendorong permainan ke depan, tetapi upaya itu tidak membuahkan hasil. Kiper pengganti Torriani masih harus bekerja keras, termasuk menggagalkan tembakan Rayan pada menit ke-87 setelah pemain itu mengontrol umpan silang dengan dada di kotak penalti. Bournemouth pantas mendapatkan lebih dari tiga gol jika melihat dominasi mereka sepanjang laga. Namun, satu momen bola mati pada akhir pertandingan sudah cukup untuk melengkapi malam sempurna itu.

Amine Adli, yang masuk sebagai pemain pengganti, menutup kemenangan pada menit ke-84 lewat tendangan bebas melengkung yang menembus tembok pertahanan Milan dan masuk ke gawang. Gol itu menyegel kemenangan 3-0 dan memicu perayaan besar di Stadion Vitality. Bagi Milan, tembok yang pecah pada momen itu menjadi gambaran atas malam yang berantakan bagi mereka. Bournemouth pun merayakan kemenangan paling terkenal dalam sejarah klub.

Tanggapan Pelatih Kedua Tim

"Malam yang besar bagi kami. Saya senang untuk klub, terutama para penggemar kami, dan sangat bangga kepada para pemain saya. Cara mereka melakukannya brilian sejak menit pertama hingga menit terakhir, kami memainkan pertandingan yang sangat bagus," kata pelatih Bournemouth, Marco Rose.

Rose juga menekankan sikap rendah hati timnya meski start sempurna di Eropa. Ia menyebut Bournemouth tahu mereka tim yang bagus dan mampu bersaing dengan siapa pun bila seluruh skuad tersedia. Namun, ia mengingatkan musim masih panjang dan timnya harus tetap membumi. Pernyataan itu sejalan dengan status Bournemouth sebagai debutan Eropa yang belum pernah membayangkan laga sebesar ini.