Sementara itu, komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDRB menurut pengeluaran memiliki peran sebesar 54,47 persen.
Ahmad Luqman menuturkan, ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan I-2022 terhadap triwulan IV-2021 (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar 8,23 persen. Kontraksi terdalam terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 28,39 persen; diikuti oleh komponen ekspor barang dan jasa sebesar 25,86 persen; komponen PMTB sebesar 15,54 persen; komponen PK-LNPRT sebesar 1,42 persen; dan komponen PK-RT sebesar 0,09 persen.
Baca Juga: Tangguhkan Rencana Beli Twitter, Elon Musk Ungkap Sebabnya
Komponen impor barang dan jasa yang merupakan faktor pengurang dalam PDRB menurut pengeluaran juga mengalami kontraksi sebesar 28,23 persen.
Sementara itu, salah satu warga Kota Kendari Jendi Pamungkas mengatakan, tingkat pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara harus ditingkatakan. Hal tersebut bisa membuat Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi provinsi dengan pentumbuhan ekonomi yang pesat.
