"Kalaupun dalam hasil survei kami ada margin errornya, itu masih bisa dipertanggungjawabkan," ucapnya.

Survei sosial ekonomi nasional ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam survei ini, terdapat dua indikator yaitu indikator sosial antara lain kondisi kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Serta indikator ekonomi yang bertujuan mempublis persentase kemiskinan di setiap daerah. Dengan menggunakan pendekatan pengeluaran yang cenderung stabil dibanding pendekatan pendapatan yang variasinya tinggi, BPS Kolut mengingikan data yang dihasilkan betul-betul akurat.

"Pendekatan pengeluaran cenderung stabil karena pengeluaran setiap bulannya itu tidak jauh berbeda dengan pengeluaran bulan berikutnya. Kalaupun ada perbedaan, itu tidak signifikan. Sementara pendekatan pendapatan variasinya tinggi, hal ini disebabkan kondisi pendapatan masyarakat Kolut yang sifatnya musiman sehingga kalau musim panen tiba, pendapatan cenderung meningkat sementara jika musim panen berakhir, pendapatan menurun. Inilah yang menyebabkan kami lebih memilih menggunakan pendekatan pengeluaran," jelasnya.

Selain itu, dengan menggunakan 510 kepala keluarga sebagai sampel dalam survei tersebut, Sablin percaya bahwa sampel tersebut cukup untuk mewakili dan memberikan gambaran persentase kemiskinan di Kolut.

"Untuk mendapatkan gambaran utuh hanya bisa dilakukan melalui sensus dan kalau itu mau dilakukan, kapan selesainya. Anggarannya juga besar, jadi survei ini cukup dan kami percaya hasilnya bisa merepresentasikan angka kemiskinan di Kolut," terangnya.