Identitas Brimob
Sejarah mencatat setiap 10 November bangsa Indonesia memeringatinya sebagai Hari Pahlawan. Tanggal 10 November 1945 atau hanya sekitar 87 hari setelah Kemerdekaan RI yang diproklamasikan di Jakarta, menjadi puncak perlawanan rakyat yang beragam bersama para pejuang di Surabaya, untuk menolak kedatangan kembali penjajah Belanda.
Saat itu Belanda masuk membonceng sekutu, menyusul kekalahan penjajah fasis Jepang dengan berpedoman, bahwa wilayah bekas jajahan dikembalikan kepada pemenang perang yang sebelumnya menguasai wilayah tersebut. Dalam hal ini Belanda, anggota sekutu yang menjajah Indonesia (Hindia belanda) sebelum Jepang masuk menjajah wilayah ini.
Polisi Istimewa (PI), embiro Brimob melalui tahap perubahan terdahulu sebagai Mobil Brigade (Mobrig), punya peran sangat besar dan menentukan saat penolakan secara bersenjata untuk dijajah kembali.
Kesaksian sejumlah pejuang tentang hal itu sangat logis dan faktual, mengingat PI yang bermula dari Tokubetsu Satsutai di bawah kepemimpinan Bapak Brimob M Jasin adalah pihak penerima penyerahan senjata dari gudang-gudang persenjataan Jepang di Surabaya. Para pejuang di sana terdiri atas macam-macam suku di Indonesia, seperti halnya Jasin yang berasal dari Sulawesi Selatan (kini Sulawesi Tenggara).
