Bagi Majid, lapak Bubur Ayam Pelangi bukan sekadar cari nafkah, tapi wujud konsistensi, kerja keras, dan harapan.

Ia berharap suatu hari bisa membuka cabang baru, menjangkau pangkalan pelanggan lebih luas. Meskipun demikian, bagi pelanggan dan warga sekitar, lapak kecil di Wua-Wua itu sudah menjadi bagian dari pagi mereka.

Dengan setiap porsi bubur, terajut pula rasa komunitas, yakni keakraban sesama warga, kebiasaan sarapan bersama keluarga, dan kenangan pagi sederhana namun penuh makna. (A)

Penulis: Gede Suyana Sriski

Editor: Mustaqim