Ia optimis dapat mengupayakan 7.000 ton beras atau sisa 18 persen dari target tersebut untuk diserap hingga akhir tahun 2022, meskipun ia mengakui ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam penyerapan beras dari mitra penggilingan.
Kendala tersebut salah satunya mengenai harga beras yang saat ini semakin tinggi di penggilingan. Walau dari pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 8.300 per kilogram, Bulog tidak bisa mengikuti harga tersebut karena persaingan pasar yang ketat dengan pengusaha beras swasta yang berani membeli dengan harga lebih tinggi.
Dengan mekanisme pasar yang ketat, Sitti mengaku, tidak keberatan jika Bulog harus membayar harga pasar asal masih dalam batas yang wajar. Ia mengatakan, saat ini pihaknya membeli beras dari mitra penggilingan mencapai Rp 9.500 per kilogram. Harga ini masih sedikit tinggi dibanding Harga Eceran Tertinggi (HET) yang hanya Rp 9.450 per kilogram .
Sitti menambahkan, saat ini cadangan beras di gudang Bulog ada 11.400 ton, ia menjamin jumlah ini cukup untuk cadangan beras sampai lima bulan ke depan, dengan estimasi alokasi beras 2.000 sampai 2.500 ton per bulan.
