Selama perjalanannya, ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari naik turunnya harga bahan baku hingga persaingan dengan pedagang sate lainnya.
Harga seporsi sate yang semula Rp 7.500 pada tahun 2009, kini menjadi Rp 13.000. Meski begitu, pelanggan tetap setia karena kualitas rasa yang konsisten.
“Yang paling penting adalah menjaga kepercayaan pelanggan dan konsisten dalam rasa. Alhamdulillah banyak yang cocok dan suka. Kalau naik turunnya ayam sebagai bahan baku ya hal yang lumrah,” tambahnya.
Baca Juga: Pemuda Kendari Ini Buktikan Pentol dan Bakso Bakar Bisa jadi Ladang Uang
Setiap hari, Malik mulai membuka lapaknya selepas magrib atau sekitar pukul 18.00 WITA. Tak jarang, sebelum ia benar-benar siap berjualan, sudah ada pelanggan yang datang untuk mengantre. Suasana ramainya pembeli menjadi pemandangan rutin di gerobak sate kecilnya.
