Data BNPB per 28 November 2025 mencatat 2.942 kejadian bencana alam di Indonesia, di mana lebih dari 70% merupakan banjir dan cuaca ekstrem. Rinciannya: banjir mendominasi dengan 1.454 kejadian (49,42%), disusul cuaca ekstrem dengan 638 kejadian (21,69%), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 546 kejadian, serta tanah longsor 218 kali.

Plt. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam Webinar Nasional bertema “Perubahan Iklim dan Mitigasi Bencana Global dan Lokal” pada April 2025 menegaskan bahwa perubahan iklim adalah kenyataan ilmiah yang tidak bisa dibantah. “Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan telah terjadi saat ini dan semakin nyata dirasakan di berbagai belahan dunia,” ujar Dwikorita.

Hasil pemantauan BMKG dari 116 stasiun pengamatan mencatat suhu rata-rata Indonesia pada Maret 2026 mencapai 27,1°C. Analisis Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri di Sulawesi Tengah menunjukkan tren kenaikan suhu sekitar 0,045°C per tahun sejak 1980, disertai peningkatan curah hujan tahunan hingga 52 mm per tahun, sebuah tanda peringatan yang gamblang.

Permukaan laut di wilayah pesisir Asia Tenggara juga naik rata-rata 5 mm per tahun, dua kali lebih cepat dari rata-rata global. Akibatnya, sebagian wilayah pesisir utara Jakarta, Semarang, dan Demak kini terendam secara permanen. Sementara anak-anak Indonesia menanggung beban terbesar: UNICEF menempatkan Indonesia di peringkat ke-46 secara global dalam Indeks Risiko Iklim untuk Anak.

Komitmen Ambisius di Tengah Tantangan Besar