Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Melalui Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC), Indonesia menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 32% atau setara 912 juta ton CO? pada 2030. Sektor energi menjadi prioritas utama, dengan target pengurangan emisi 358 juta ton CO?. Indonesia juga berkomitmen mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.
Dalam Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) yang dirampungkan pada pertengahan 2025, pemerintah menargetkan peningkatan bauran energi terbarukan hingga 27–33% pada 2035. Indonesia pun memanfaatkan program Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai USD 20 miliar untuk mempercepat penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara.
Namun sejumlah pakar memperingatkan bahwa target tersebut perlu didorong lebih jauh. CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai, dengan skenario pertumbuhan ekonomi delapan persen dalam Second NDC, emisi nasional masih akan terus meningkat hingga 2035 sebelum kemudian menurun.
“Upaya nyata penurunan emisi baru akan dimulai setelah 2035, bukan dalam dekade ini,” tegasnya. Sektor energi saat ini menyumbang sekitar 55?ri total emisi nasional, sehingga transisi dari batu bara ke energi terbarukan menjadi kunci yang tidak bisa ditunda.
Catatan Akhir: Adaptasi, Mitigasi, dan Solidaritas sebagai Jalan Keluar
