Meskipun penganan ini adalah sebuah tradisi, masyarakat tak dipaksakan untuk membuatnya. Dalam pesta kawin dan sunatan misalnya, siapapun boleh buat, boleh juga tidak. Tergantung kemampuan ekonomi tiap orang. Di beberapa desa di Tomia bahkan mengganti sesajen karasi dengan uang, dengan alasan tidak ingin repot-repot.
Dalam lebaran pun, tidak membuat karasi juga tidak apa-apa. Terkecuali dalam kematian, karasi menjadi sesuatu yang sakral, adat yang wajib hadir dalam menu sesajen. Keluarga yang miskin ataupun kaya biasanya selalu membuat karasi. Jika tidak, biasanya si keluarga yang berkabung itu akan menanggung malu.
Karasi adalah warisan orang tua kita. Dari dulu hingga kini selalu ada dan terpelihara. Bahkan kini semakin hidup dan mendapat tempat di tengah masyarakat. Penganan ini mengalami transisi dari sekadar tradisi, menjadi hal yang bisa mendatangkan pundi-pundi rezeki.
Dengan teksturnya yang garing, enak, dan daya tahannya yang lama (jika disimpan di dalam wadah yang sangat tertutup rapat), orang akan terus ingin menikmatinya.
Semoga kelak karasi memiliki banyak peminat, baik dari tingkat lokal, nasional dan internasional. Dengan demikian akan meningkatkan ekonomi masyarakat Wakatobi yang berkelanjutan! (*)
