Karasi model koro bata, kapa’a-pa’a dan koro sampalu adalah karasi yang muncul pada abad modern. Yakni sekitar tahun 2000-an. Sedangkan sepuluh model lainnya muncul sejak zaman nenek moyang dulu kala. Beberapa sesepuh di Tomia, memperkirakan sejak zaman jahiliyah. Sepuluh model tersebut umumnya merupakan gambaran sumberdaya alam dan tradisi Tomia.
Karasi merupakan tradisi leluhur Buton. Yang masih terpelihara sampai kini. Ia memiliki nilai kearifan lokal tersendiri. Adalah kesederhanaan dalam pembuatan karasi, mencerminkan kesederhanaan hidup orang Buton umumnya, Tomia khususnya.
Orang Tomia sejak dulu hingga kini selalu hidup dalam kesederhanaan. Mulai dari makanan, berpakaian, berdandan, dan seterusnya. Kesederhanaan itu terbentuk karena keadaan, juga karena didikan orang tua mereka sejak lahir.
Baca juga: 5 Oleh-Oleh Khas Kendari yang Wajib Dikunjungi Pelancong
Menggali nilai falsafah dan historis dalam sepotong kue karasi, bak menggali sumur tanpa dasar. Semakin digali semakin dalam, tanpa tahu kapan berjumpa dasarnya. Nenek moyang orang Tomia sejak dahulu hidup begitu saja. Tanpa menggelisahkan diri, mencari tahu sebab adanya sesuatu. Untuk bertahan hidup saja merupakan bentuk kesyukuran bagi mereka.
