Karena poporoki bentuknya menyerupai segitiga sama kaki. Juga terinspirasi dari mayat saat dikafani diikat dalam tiga ikatan: bagian kepala, perut dan kaki.
Konon, model karasi yang menyerupai benang kusut tanpa ujung itu, sebenarnya terinspirasi dari bulu badan manusia. Bulu badan manusia itu halus dan kecil-kecil seperti halnya karasi. Coba Anda perhatikan karasi, dan bandingkanlah dengan bulu badan Anda.
Ternyata karasi sejak zaman nenek moyang orang Tomia dulu, dibuat dari jagung, dan gula merah cair (gola bone lonsa). Di saat itu, konon belum ada tepung beras dan gula pasir. Kemudian seiring berjalannya waktu, jagung pun diganti dengan beras yang ditumbuk halus, kemudian diayak dengan menggunakan kain sifon. Lalu tepung beras(gulupu), ditambahkan dengan sedikit kore (endapan air ubi kayu parut).
Kini agar lebih praktis, karasi dibuat dengan memakai tepung beras kemasan, dicampur sedikit tepung kanji. Gula yang dipakai pun adalah gula pasir.
Karasi tempo dulu, disajikan pada saat perayaan pesta nikah, sunatan, lebaran, syukuran penempatan rumah baru, dan pelepasan sang kekasih ke perantauan. Kini, adat karasi untuk syukuran rumah baru dan pelepasan kekasih sudah hilang.
