Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat memiliki konsekuensi buruk, di antaranya hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak terkendali, dan doa yang tidak terkabul.
Imam Ibnu Rajab al-Hambali berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu yang tidak menimbulkan (sifat) khusyu’ dalam hati maka ini adalah ilmu yang tidak bermanfaat”.
Hadits ini menegaskan bahwa salah satu buah manis dari menuntut ilmu yang bermanfaat adalah tercapainya kekhusyukan dalam ibadah.
Imam al-‘Ala-i berkata: “Ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menguhubungkan antara memohon perlindungan (kepada Allah Ta’ala) dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyu’, (maka) ini mengisyaratkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang mewariskan sifat khusyu’ (dalam diri manusia)”.
Khusyu' merupakan buah paling manis dari ilmu yang bermanfaat, namun, ini adalah hal pertama kali diangkat oleh Allah Ta’ala dari muka bumi ini. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Abu Darda Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, yang artinya:
