Oleh: Zaenal Abidin

Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia 2012-2015

SALAH satu yang selalu menarik untuk diperbincangkan dalam berorganisasi adalah tentang model kepemimpinannya. Misalnya, apakah organisasi itu memilih menerapkan model kepemimpinan dengan otoritas tunggal atau memilih model kepemimpinan kolektif. Tak terkecuali organisasi profesi dokter satu-satunya, yaitu Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Karena itu, penulis membuat artikel opini ini sebagai catatan akhir tahun 2024 untuk IDI.

Sebetulnya, selama puluhan tahun IDI sudah menerapkan kepemimpinan kolektif. IDI mengikuti model kepemimpin yang diterapkan organisasi dokter se-dunia, yaitu World Medical Association (WMA) dan juga Confederation of Medical Associations in Asia and Oceania (CMAAO). Kedua organisasi ini tidak mengenal adanya kepemimpinan otoritas tunggal, melainkan kepemimpinan kolektif kolegial.

Kepemimpinan kolektif kolegial WMA, CMAAO, dan negara-negara anggotanya terdiri dari president (ketua umum), president elect (ketua terpilih) dan immediate past president (ketua purna). Ketiganya berbagi fungsi, tugas, dan peran dalam kesehariannya sebagai satu kesatuan kepemimpinan.