“Ini mengindikasikan bahwa biodiversitas Wawonii selama ini belum sepenuhnya terdokumentasi. Pemantauan jangka panjang menjadi penting, bukan hanya untuk melihat perubahan, tetapi juga untuk melengkapi basis pengetahuan ilmiah yang masih terbatas,” jelasnya.

Selain inventarisasi hayati, tim juga menganalisis kualitas air sungai, air laut, sedimen, serta kandungan logam berat pada biota ikan. Hasil uji laboratorium menunjukkan seluruh parameter berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan regulasi nasional maupun standar internasional.

“Hasil analisis kami tidak menemukan sesuatu yang berarti dalam konteks pencemaran atau kerusakan lingkungan. Jadi, kondisi ekosistem di sana masih dalam ambang batas yang sangat aman,” tegas Prof Danu.

Meski demikian, ia menekankan bahwa hasil tersebut merepresentasikan periode dan lokasi pemantauan tertentu, sehingga pengawasan berkala tetap diperlukan untuk memahami dinamika jangka panjang ekosistem pulau kecil.

Menurut Prof Danu, salah satu faktor penting keberhasilan pemantauan berkelanjutan ini adalah kolaborasi antara tim peneliti dan PT Gema Kreasi Perdana (GKP), perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah tersebut.