“Kegiatan ini memang bagian dari program perusahaan, tetapi juga sangat berkontribusi dalam mengungkap biodiversitas yang sebelumnya belum pernah dilaporkan. Data ilmiah ini penting agar pengelolaan lingkungan tidak berbasis asumsi,” ujarnya.

Data tersebut, lanjutnya, dimanfaatkan dalam kegiatan reklamasi tambang. Dari sekitar 114 jenis tumbuhan yang teridentifikasi, informasi itu menjadi dasar pemilihan jenis tanaman untuk lahan pascatambang.

“Reklamasi adalah kewajiban. Yang terpenting bagaimana reklamasi dilakukan. Ada jenis toleran untuk lahan terbuka, ada tanaman penghasil buah untuk mempercepat kembalinya fauna. Ke depan, jenis-jenis endemik dan terancam diharapkan dapat diintegrasikan dalam kegiatan reklamasi,” terangnya.

Prof Danu mengingatkan, tantangan utama pengelolaan Wawonii terletak pada menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan keberlanjutan ekosistem.

“Kita sepakat Wawonii adalah pulau kecil dengan daya dukung terbatas. Namun, kita juga harus ingat bahwa sumber daya alam di sana beragam. Tugas kita memastikan aktivitas ekonomi dan ekologi bisa berjalan bersamaan,” ujarnya.