Ini menunjukkan PKS bisa berjuang dan dapat mengajukan diri sebagai partai yang akan memberikan kenyamanan pada pemerintahan Anies-Muhaimin. Hanya saja sebaliknya, jika Partai Nasdem yang mengisi peringkat kelima kembali.

Kemungkinan besarnya, PKS pengaruhnya di parlemen mengecil, sebab Partai Nasdem menginginkan Anies berwajah nasionalis ketimbang wajah Anies dengan PKS yang terlanjur terlabeli dari “Islam Kanan,” dengan hanya memiliki jumlah pendukung yang tak banyak di negeri ini.

Tetapi PKS diyakini tidak akan tinggal diam. PKS tentu akan berjuang mempengaruhi Anies secara personal dengan memori indah yang terbangun antara PKS dan Anies. PKS adalah pengikut loyalnya Anies, PKS yang selalu berada di belakang Anies ketika Pilkada maupun Pilpres.

Muhaimin dan PKB memang dalam posisi jumawa, sebab PKB saat ini dan pasca Pemilu masih memungkinkan meraih peringkat yang sama di urutan keempat. Hanya saja, melihat dua kali pengelolaan kekuasaan dilakukan oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Jokowi maka kemungkinan besar pengelolaan kekuasaan Anies akan sama melakukan upaya mempertebal jumlah kekuatan partai pendukung pemerintahannya.

Faktanya mempertebal jumlah kekuatan partai pendukung setelah pemerintahan terpilih adalah opsi yang selalu dipilih. Realitasnya suara partai-partai di Pemilu tidak ada yang bisa mencapai perolehan suara mayoritas mutlak karena partai peringkat pertama sampai urutan kelima dapat dikategorikan partai papan tengah semata.