Sehingga melihat kekuatan jumlah partai pendukung Anies sebesar 30 persen, maka pemerintahannya membutuhkan mempertebal jumlah dukungan partai-partai lainnya untuk mengamankan kebijakan-kebijakan pemerintahan di Senayan. Perkara mempertebal kekuatan jumlah partai tidaklah sulit, karena iklim politik kepartaian kita dibangun dengan dasar pragmatis ketimbang ideologis.
Muhaimin diyakini akan berperan besar mengawal kebijakan Anies di parlemen. Muhaimin adalah politisi lihai, ia meski tidak begitu meyakinkan dalam debat cawapres pertama dan terakhir, tetapi untuk urusan lobby, membangun kerjasama maupun meraih dukungan dari partai-partai politik lain ia masih memiliki pengaruh yang lumayan besar.
Contoh nyatanya adalah undang-undang Pesantren, dana abadi pesantren, maupun hari santri, tak bisa diabaikan merupakan perjuangan besar dari Muhaimin dan PKB. Dan, jangan lupakan pula, nama Maruf Amin disorongkan sebagai cawapres pendamping Jokowi sehingga menyingkirkan nama Mahfud MD pada Pemilu 2019 lalu, banyak dikisahkan tak bisa dilepaskan karena peran dari Muhaimin di dalam meja perundingan saat itu. Wajar akhirnya, hubungan Muhaimin dengan Mahfud MD tidaklah dalam kondisi yang selalu harmonis.
Baca Juga: 'Pemaksaan' Menteri Mundur dari Kabinet
Karakter Muhaimin yang jumawa, diyakini akan terasa sekali ia akan mudah menyatakan dirinya “the special one” meski dalam posisi cawapres. Saat kampanye dan debat cawapres pertama, ia dengan lantang dan jumawa berkata, semestinya yang menjadi capres adalah dirinya sedangkan Anies posisi cawapres, karena dia adalah ketua umum partai dan PKB juga berada di peringkat keempat.
