Meski PKB dan Muhaimin merasa tinggi hati, tetapi PKS merasa hubungan partai ini dengan Anies lebih panjang durasinya dan juga dalam sisi emosionalnya ketimbang PKB. PKS juga tidak akan memudahkan PKB maupun Muhaimin dapat membangun narasi, Anies yang membutuhkan Muhaimin dan PKB, bukan sebaliknya.  

Ditenggarai secara tidak langsung hubungan PKB dan PKS akan terus bersaing. Apalagi kedua pendukung fanatik masing-masing partai ini pada dasarnya terjadi adanya “tembok besar” pemisah ideologi antara PKB dan PKS, meski sama-sama partai Islam. PKB dengan basis NU, grass root-nya cenderung tidak nyaman dalam kerjasama PKB dengan PKS.

Sebab, warga PKS cenderung selalu men-julid-kan tradisi keagamaan tradisional dari PKB. Posisi “Islam kanan” yang minoritas, akan bersaing untuk menyaingi kekuatan dari posisi “Islam Tradisional” yang memang sebagai kekuatan terbesar di negeri ini.

Sedangkan, Partai Nasdem juga tidak akan serta-merta ingin dianggap aggap berjasa besar bagi Anies maju sebagai capres, tetapi kemudian dipinggirkan ketika Anies terpilih. Partai Nasdem tidak akan menginginkan partai ini dianggap perannya ditempatkan di posisi buncit ketika Anies terpilih untuk memerintah.

Partai Nasdem akan mencoba kembali kekuatan media yang dipunyai, kepemimpinan dan lobby Surya Paloh yang handal, juga pengalaman Partai Nasdem memberikan kenyamanan kepada Presiden Jokowi selama dua periode.