Perlawanan Bersenjata
Bicara Indonesia, Polri yang pernah menjadi bagian dari militer, tak bisa dilepaskan dari sejarah berdiri dan bertahannya negeri ini. Prolog menuju Indonesia merdeka (17 Agustus 1945) membuktikan hal itu. Jadi historikal, Polri itu bagian penting dari perjuangan bersenjata membebaskan diri dari penjajah.
Polri yang ketika itu “Polisi Repoeblik Indonesia” (PRI) terlibat langsung dan menjadi bagian penting mempertahankan Indonesia merdeka dalam plagan yang berpuncak pada “Peristiwa Soerabaya, 10 November 1945”. Pada peristiwa amat bersejarah bagi bangsa yang baru tiga bulan memproklamasikan kemerdekaannya ini, PRI dipimpin oleh putra Baubau, Sultra, M. Jasin (9 Juni 1920 – 3 Mei 2012). Bapak Brimob ini terakhir jenderal polisi bintang tiga (Komjen). Ia berpulang sembilan tahun lalu dan jenazahnya dimakamkan di TMP Nasional Kalibata, Jaksel.
Pasca proklamasi kemerdekaan hingga era Orde Baru (Orba), ternyata tidak mudah bagi Polri melepaskan diri dari ruh militer, baik legal formal, maupun (terlebih lagi) realitas kultural. Bahkan, di masa Orba, politik pemerintah amat dipengaruhi oleh penguasa dan lingkar oligarkinya yang otoriter berciri kental represif.
Harus diakui sepanjang masa itu, Polri tak ubahnya Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Meski bukan yang utama, saking lekatnya dengan identitas militer, Polri di masa Orba kerap dijuluki bungsunya ABRI.
