Proses mengubah dari polisi yang militer menjadi polisi sipil, jelas terkait langsung dengan culture change. Tidak segampang membalikkan telapak tangan. Kultur yang menjadi ciri buruk, dalam konsep kebudayaan akan turun ke generasi berikutnya (lihat Akbar, 2011: 144 – 145). Tegasnya dapat disebut dengan satu kata saja: “terwariskan”.
Jadi, jika pun generasi di Polri terus berganti, tinggalan (buruknya) berlanjut. Meskipun tak sehebat sebelum 1998, kultur lama (main kuasa, bertabiat dan berperilaku koruptif) yang diharapkan cepat terkikis, ternyata tetap hidup terwariskan. Dalam hubungannya dengan kultur lama itu, mungkin harus ada koreksi terhadap interpretasi keliru terhadap pemahaman “sejahtera” atau “kesejahteraan”.
Baca Juga: Pemimpin Bersumbu Pendek
Pada mereka di internal Polri dan masyarakat umum, kerap terjadi keliru memahami bahwa, sejahtera atau kesejahteraan itu identik hanya bisa diraih bila memiliki atau melalui kekuasaan (pangkat, jabatan, dan kewenangan yang dilihat semata-mata sebagai “power”). Kekuasaan akan secara instan memberi kekayaan materi dan gaji besar.
Maka muaranya, memengaruhi pola pikir bahwa kekuasaan akan secara “cepat saji” menyejahterakan. Ketika pandangan semacam ini meningkat menjadi orientasi, jelas merupakan musuh besar yang deras mendegradasi makna profesi di jalan pengabdian. Maka yang muncul adalah “Cepat saji Vs Semangat Perjuangan!”
