Oleh karena hal semacam itu sudah mengkultur, harus dilawan oleh perubahan secara kultural pula. Untuk itu, harus dimulai dari kemauan mengubah “mindset” (pola pikir). Tujuannya, agar mereka memiliki modal awal, yaitu sejahtera atau kesejahteraan dipandang sebagai “Sistem dimana pemerintah menjalankan tanggung jawab utama untuk menyediakan keamanan sosial dan ekonomi penduduknya….” (Setiyono, 2018: 32 – 33, dan lihat secara keseluruhan pasal lain UUD 1945).
Tetapi, tentu, tidak berarti semua terpulang kepada Pemeritah semata. Namun, menjadi jelas sekali, bahwa di dalam kesejahteraan, ada faktor keamanan sebagai unsur siginifikan. Tidak main-main, bukan?
Secara normatif, tentu sejahtera di Indonesia mengacu pada UUD 1945 dan turunannya termasuk UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian. Tetapi, saya sependapat bahwa, masifnya prilaku mengayomi dan melayani dari sosok-sosok polisi yang setiap saat merepresentasikan institusi Polri, merupakan resep ampuh bagi terbangunnya kultur Polisi sipil. Tentu, pada saat yang sama, perubahan pemahaman serupa terhadap kesejahteraan dapat terwujud pula pada masyarakat yang diayomi dan dilayani.
Di tengah-tengah tuntutan perubahan menjadi Polri berkultur sipil itu, Baintelkam punya peran strategis. Meski, kembali menurut penulis, setidaknya ada beban berat masa lalu yang tidak mudah dihilangkan begitu saja pada masyarakat ketika mendengar kata “intel”. Belum hapus sama sekali dari ingatan kolektif masyarakat, bahwa intel adalah alat paling efektif dan represif di masa sebelum 1998. Beruntung kini telah hadir teknologi maju di bidang informasi berciri utama mudah dan cepat, dengan segala plus-minusnya.
Kemajuan tersebut telah sedikit banyak mampu mengubah paradigma lama itu. Adalah sudah menjadi realitas kebenaran pada kekinian, bahwa penegak hukum tidak bisa gegabah bertindak represif, bila tidak ingin perbuatannya segera tersebar-luas melalui media sosial (medos). Memang negatifnya, bila kemajuan itu disalahgunakan melalui pola pikir cepat saji alias “cepatnya tarian jari jempol telah menguasai pola pikir”.
