"Hampir semua gedung-gedung tinggi di Jakarta dan kota besar lainnya di Kendari juga ada yang konstruksi seperti itu tidak menggunakan batu merah lagi. Di rujab kantor Gubernur Sultra semua kolam- kolam yang besar tidak ada isinya sedikit sekali, kita bungkus dengan Glass Reinfirced Concrete (GRC), beton campuran serat kaca, itu tahannya sampai 25 tahun. Itu tahan api, tahan air dan mudah perawatannya," jelas Pahri.
Selain dari konstruksi bangunan yang megah, pembangunan gerbang Toronipa-Kendari juga melihat nilai estetikanya.
"Sehingga gerbang Toronipa-Kendari juga menggunakan bahan tersebut, karena sisi estetika yang kita kejar. Kalau kita gunakan beton atau batu merah itu tidak nampak. Kalau GRC bisa kita bentuk," ungkapnya.
Pahari juga menyebutkan alasan gerbang Toronipa cepat rusak dan beberapa sudutnya bolong, bukan karena faktor alam, namun karena sengaja dirusak.
"Sehingga kami dari pihak dinas teknis bertanggung jawab terkait hal itu. Masih ada anggaran yang belum diberikan kepada kontraktor hampir Rp 6 miliar, sampai dia perbaiki semua kerusakan itu," tegasnya.
