BANYUWANGI, TELISIK.ID - Lebih dari dua dekade berlalu, rangkaian pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai “dukun santet” di Banyuwangi.

Sejumlah wilayah Jawa Timur masih menyisakan trauma mendalam bagi keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya dalam situasi penuh ketakutan dan ketidakpastian.

Peristiwa yang terjadi antara Februari 1998 hingga Oktober 1999 itu berlangsung di tengah krisis ekonomi dan gejolak politik nasional, ketika ketegangan sosial di berbagai daerah meningkat dan situasi keamanan belum sepenuhnya stabil pascareformasi.

Sedikitnya 250 orang dilaporkan menjadi korban dalam rangkaian pembunuhan tersebut. Awalnya, sasaran adalah orang yang dituduh memiliki ilmu hitam atau disebut “dukun santet”, namun kemudian meluas hingga mencakup guru agama, orang dengan gangguan mental, serta warga sipil yang tidak memiliki keterkaitan dengan tuduhan tersebut.

Melansir laporan BBC, Kamis (4/6/2026), di sejumlah lokasi kejadian, keluarga korban menggambarkan adanya tanda-tanda sebelum peristiwa terjadi, seperti tanda silang di rumah warga, lampu yang tiba-tiba padam, serta kedatangan orang tidak dikenal pada malam hari yang menimbulkan kepanikan di lingkungan sekitar.