Sebagian besar penghasilannya disisihkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar kontrakan, dan mengirim uang untuk keluarganya di kampung halaman di wilayah Selatan.
"Pendapatan saya tidak menentu. Kadang sehari cuma dapat Rp 20 ribu. Dari situ, saya sisihkan Rp 10 ribu untuk bayar kontrakan, sisanya untuk makan dan dikirim ke kampung," ujarnya.
Adi menyadari bahwa menjadi pengayuh becak di zaman sekarang jauh lebih sulit dibandingkan dahulu. Banyak orang kini sudah memiliki kendaraan pribadi, membuatnya sulit mendapatkan penumpang.
"Biasanya saya cuma mangkal di Pasar Sentral Kota Lama dan Pasar Lelang. Penumpangnya juga hanya yang rumahnya tidak jauh dari pasar," kata Adi.
Selain itu, Adi kerap menghadapi tantangan cuaca yang tak menentu, seperti terik matahari dan hujan. Meski begitu, semangatnya tidak pernah surut.
