Kejadian tersebut sempat membuat sejumlah santri merasa tidak nyaman. Sebagian bahkan memilih pulang karena mengaku tidak kuat menghadapi kejadian yang mereka alami.
"Di tahun pertama sampai ketiga itu santri banyak yang goncang. Ada yang sakit, yang pulang juga ada karena enggak kuat sering lihat penampakan kayak gitu," kata Dudu.
Menurut Dudu, situasi tersebut mulai mereda setelah memasuki tahun ketiga. Pendiri pesantren saat itu rutin menggelar istigasah setiap malam Jumat dan mengundang ulama dari berbagai wilayah di Kota Bandung.
"Sampai tahun ketiga yang berat, setelah itu Alhamdulillah enggak ada lagi. Karena dulu almarhum, pendiri, itu setiap malam Jumat selalu mengadakan istigasah di sini," ujarnya.
"Terus yang diundang juga ulama se-Kota Bandung. Jadi Alhamdulillah semuanya bisa dilalui," sambungnya.
