Baca juga: Dampak Broadcast Informasi COVID-19 Melalui WhatsApp Terhadap Kecemasan
Padahal, kebutuhan akan isi perut adalah kebutuhan yang seumur dengan manusia, sebelum orang berbicara tentang kesehatan. Saat Nabi Adam (si manusia pertama) diciptakan dan berdiam di surga, Tuhan langsung menyiapkan kebutuhan pangannya. Setelah Adam dan Hawa turun ke bumi, maka persoalan pertama yang dihadapi juga adalah kebutuhan pangan. Begitu juga saat seorang bayi lahir, maka dia akan menangis karena kebutuhan pangan dan dekapan seorang ibu. Intinya, manusia akan marah besar dan mengamuk tak terkendali bila kebutuhan isi perutnya terancam.
Karena itu, dari sisi pembangunan dan prioritas dalam kehidupan, pembangunan bidang pertanian untuk menjamin tersedianya pangan adalah kebutuhan tertua yang harus diperhatikan. Selagi manusia hidup ia butun pangan.
Nah, mengenai darurat pandemi COVID-19 yang ‘terlihat’ menakutkan ini, memang argumen pentingnya kesiapan pangan tetap perlu diperkuat, baik melalui kegiatan usaha pangan di masyarakat seperti pertanian tanaman pangan, usaha dagang (bisnis) komoditas pertanian seperti sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman obat, hingga lembaga penyedia pangan pemerintah seperti Bulog, termasuk di antaranya promosi menanam di rumah-rumah perlu dijaga dan ditingkatkan guna mewujudkan ketahanan pangan di masyarakat. Di tingkat lokal atau daerah, perlu mendorong agar komoditi pangan andalan daerah terus digalakkan dan dijadikan sebagai alternatif pangan baru selain beras.
Kemudian, mengenai mana prioritas, apakah ketersediaan pangan atau mau difokuskan energi pada penanganan COVID-19 saja, tidak perlu dibuat dikotomi. Sementara ini, tulisan ini menyarankan sebaiknya dibuat saja keduanya seperti dua sisi mata uang, di mana keduanya saling melengkapi, atau tidak dipisahkan. Tapi arahnya harus jelas bagaimana pihak terkait khususnya negara beserta para pejabatnya memperlakukan, lalu secara bersamaan diterapkan dalam kehidupan di masyarakat secara luas.
