Di antara caranya adalah memperkuat pangan sebagai komoditas ekonomi sebagai bisnis yang menguntungkan dan membawa kesejahteraan. Dengan memadainya pembangunan ekonomi masyarakat yang dimulai dari pedesaan, maka kota juga akan ikut mendapatkan manfaatnya.
Semangat gotong royong, saling peduli, atau membantu sesama warga bangsa dalam menghadapi dua tantangan tersebut, tampaknya semakin meningkat. Pada satu sisi tumbuh kepedulian terhadap kesehatan, namun di sisi lain pemenuhan kebutuhan pokok atau pangan masyarakat (isi perut) semakin banyak terlihat. Buktinya adanya aksi-aksi sosial yang banyak dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat guna meringankan beban masyarakat yang terkena dampak COVID-19 secara langsung di berbagai tempat.
Menghadapi situasi darurat yang belum jelas ujungnya kapan selesai ini, tentu akan menimbulkan masalah ekonomi dan sosial yang baru, karena dibatasinya gerakan mobilitas masyarakat, dan terkait ekonomi akan terjadi perlambatan pertumbuhan, serta diperkirakan munculnya kemiskinan baru. Karena itu membangun solidaritas di antara sesama anak bangsa merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Bila diibaratkan ini adalah badai, insya Allah badai akan segera berlalu. Tentu saja dengan kecepatan, ketegasan, kedisiplinan, dan kebersamaan semua pihak sangat dibutuhkan. Harapan terbesar adalah adanya obat penyakit COVID-19 semoga bisa segera ditemukan dan dapat digunakan untuk mengobati semua pihak terpapar tanpa kecuali, agar masa darurat bisa berakhir dan kehidupan bisa normal seperti sedia kala. (*)
