"Kalau ada pelabuhan di Batauga lebih bagus lagi, karena kalau penumpang turun, tidak lagi basah. Kalau ombak besar begini kalau penumpang yang turun kadang ada yang basah bahkan ada yang jatuh," ungkapnya.
Buruknya cuaca ini juga berdampak pada penghasilannya. Di musim teduh, ia bisa menghasilkan Rp 500 ribu per-hari. Namun di musim ombak ini, ia hanya bisa mendapatkan Rp 300 ribu. Bahkan tak ada sama sekali.
"Kalau sudah besar lagi ombak, kita tidak melautmi. Kita hanya duduk-duduk di jembatan sambil lihat-lihat ombak," tuturnya.
Ayah dua anak ini mengungkapkan, untuk mengantisipasi dari ancaman ombak di Batauga, ia terpaksa menurunkan penumpang di lingkungan Topa, Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau. Sebab gelombang tinggi tidak hanya terjadi di pesisir pantai melainkan juga terjadi di tengah laut. Apalagi, beberapa kali ia mengalami pengalaman buruk saat sandar di Batauga saat musim ombak.
"Air laut itu masuk lewat belakang. Sampai mesin tenggelam," katanya.
