Di Suriah, rezim Bashar al-Assad telah runtuh setelah dua bulan perang antara Israel dan Hizbullah. Runtuhnya Assad dianggap sebagai pukulan besar terhadap jaringan dukungan Iran, sebab Suriah adalah jalur strategis utama bagi pengiriman senjata dan logistik.
Meskipun begitu, Iran masih memiliki opsi strategis, termasuk melakukan serangan rudal balistik ke pangkalan-pangkalan militer AS di Teluk Persia dan menutup Selat Hormuz. Jalur laut itu menjadi titik kritis bagi perdagangan minyak dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan global melewatinya.
Secara diplomatik, Iran telah berupaya menjalin kembali hubungan dengan kekuatan regional, termasuk Arab Saudi dan Mesir.
Menurut peneliti Ali Mamouri dari Universitas Deakin, pendekatan diplomatik ini telah memperluas dukungan politik Iran, terutama dari negara-negara mayoritas Muslim.
Namun, Mamouri menyatakan bahwa negara-negara seperti Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, dan Turki kecil kemungkinan akan memberikan dukungan militer nyata. Hal ini disebabkan hubungan erat mereka dengan Amerika Serikat dan kekhawatiran terhadap dampak eskalasi regional.
