Artinya sudah lumrah diketahui publik bahwa anggota partai tidak memegang peran penting dalam pengambilan keputusan dan kebijakan partai (Warsito Ellwein, 2011), kecuali penentuannya oleh segelintir elite partai.

Elite partai ini acapkali tidak digambarkan para pimpinan di semua lini hirarki partai, pun begitu tidak seluruh anggota DPR dianggap elite partai. Sebab sifat keanggotaan partai, bukan berdasarkan jenjang karier, merit system, tetapi lebih kepada siapa yang dapat memengaruhi, dekat dengan elit partai, utamanya ketua umum partai.

Baca juga: Menjadi Kapolri Bukan Coba-Coba

Ketua umum partai di kepartaian Indonesia masih dianggap simbol identitas nomor satu dari partai politik itu sendiri, sehingga acapkali tak dapat diprotes, diganti, meski dalam niat sekalipun.

Berbagai alasan dihimpun mengokohkannya seperti karena ia dianggap figur kharismatik, figur persatuan, figur masa lalu, hingga ia adalah yang punya partai itu, maka tak ubahnya dengan perusahaan.