Ketika melihat pola pongah dari wakil rakyat, yang sangat memerlukan rasa iba dari masyarakat adalah posisi presiden. Presiden selalu sendiri, partainya, koalisi pendukung pemerintahannya, tak pernah ada yang benar-benar serius mendukung program pemerintah.

Semua dilakukan atas nama popularitas dan elektabilitas. Seperti mengenai vaksin saja, partai yang awalnya mendukung Presiden Joko Widodo untuk membeli vaksin, mendukung penuh dengan bahasa ‘kami siap divaksin,’ bahkan awal tahun, mereka ramai-ramai dari pemerintah, menunjukkan pergantian tahun 2021 disimbolkan sebagai tahun vaksin.

Nyatanya, popularitas lebih dibutuhkan, opera sabun, politik dagelan lebih dibutuhkan, dibandingkan harus menunjukkan partai yang konsisten, komitmen, mendukung sepenuhnya pemerintah, partainya presiden, bahkan berani mengambil risiko, mengambil tanggung jawab, menanggung risiko digugat oleh masyarakat, bahkan terjun bebas dalam elektabilitas sekalipun.

Atas nama rakyat, atas nama pengawasan, atas nama wakil rakyat, atas nama kewajiban berbicara, atas nama di sedung Senayan, atas nama sedang menjalankan tugas sebagai anggota dewan. Mereka senang sekali curhat, tak melihat proses yang sudah dijalankan, tak melihat tahapan.

Standar ganda pun perlu dilakukan, lagi-lagi hanya mengenai popularitas, sehingga mereka lupa memilih kata, kalimat, bahasa yang bisa menunjukkan sikap kesatria, sikap berani mengambil resiko, tak sedang mengaduk-aduk harapan dan perasaan publik.