Dikutip dari Republika.co.id, menurut pengarang Tafsir Jalalain, yang dimaksud “di waktu sahur” itu adalah di akhir malam. Menurutnya, waktu istighfar disebutkan di dalam ayat itu secara khusus, karena pada waktu itulah orang biasa lengah dan tidur nyenyak. Dapat diduga, inilah yang membuat waktu sahur memiliki keutamaan untuk memohon ampun. 

Sedangkan ucapan istighfar yang dibaca oleh mereka yang di akhir-akhir malam memohon ampun kepada Allah SWT, menurut pengarang Tafsir Jalalain lagi, adalah “Allahummaghfir Lana” (Ya Allah ampunilah kami). Di sini terlihat etika berdoa: meminta ampun untuk bersama. Tidak dikatakan, “Allahummaghfir Li” (Ya Allah ampunilah aku).

Bagi Syaikh Nawawi Banten, seperti diungkapkannya dalam karya magnum-opus-nya, yakni Tafsir Munir, sighat istighfar itu bisa apa saja. Inilah kemurahan para ulama agar tidak membuat berat umat. Misalnya mengucapkan, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami.” (QS. Ali Imran/3: 16).

Baca Juga: Ingin Rumah Aman dari Gangguan Makhluk Halus? Ini Tips dan Doanya

Baca Juga: Ini Nasihat Rasulullah SAW Menghadapi Tetangga yang Usil dan Adab Bertetangga Menurut Islam