"Biasanya setiap peserta akan menginap dan tinggal bersama dalam sebuah asrama. Menurutku, ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Tapi saat tiba di sana, apa yang aku bayangkan berbeda dengan kenyataannya," katanya.

Semula, ia mengira kegiatan di lokasi tersebut akan diatur berdasarkan tradisi suci gereja dan mendekatkan diri dengan Tuhan. Namun, Ia harus menelan kekecewaan karena kenyataannya jauh berbeda dari bayangannya.

Ia menemukan banyak perilaku tidak sesuai yang dilakukan oleh kelompok pemuda ini. Dimana, ada beberapa peserta yang menyelundupkan minuman keras, serta menjalin hubungan dengan lawan jenis yang tidak sewajarnya.

Baca Juga: 6 Atlet Indonesia Putuskan Mualaf, Nomor 1 Pemegang Enam Mendali Emas Wushu

Kekecewaan lain yang ia rasakan adalah kegiatan presentasi yang membawa pesan pro-LGBTQ. Dimana, Amerika Serikat saat itu sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan hubungan dan pernikahan sesama jenis.