Keputusannya untuk pindah ke Kendari adalah pilihan yang berani. Meskipun Kota Kendari jauh dari hiruk-pikuk seperti Bandung, Gery melihat adanya peluang yang lebih terbuka untuk berkembang.

“Kendari, meski kecil, memiliki pasar yang berbeda, banyak mahasiswa dan pekerja muda yang mungkin lebih terbuka dengan berbagai jenis makanan, termasuk roti,” kata Gery, yang merasa bahwa kota ini menawarkan kesempatan lebih besar untuk menjalankan usaha.

Setiap pagi, Gery berangkat dari tempat tinggal sederhana yang ia sewa bersama beberapa penjual roti lainnya. Ia bekerja di bawah seorang pemilik usaha yang menyediakan tempat dan modal untuk berjualan roti, dengan perjanjian bahwa Gery akan menerima gaji setelah biaya untuk pemilik usaha dipotong.

Meski begitu, pekerjaan ini memberinya kesempatan untuk bertahan hidup dan memperoleh pengalaman berharga dalam bisnis makanan.

“Setiap hari, saya berusaha menjual roti keliling, biasanya di depan kampus UHO. Di sana banyak mahasiswa yang suka jajan, dan saya bisa jual roti dengan harga terjangkau. Biasanya, setelah potongannya, saya bisa bawa pulang sekitar 100 ribu per hari,” ungkap Gery dengan senyum tipis, namun tetap menyimpan tekad yang kuat untuk menjadi orang yang sukses.