Oleh: Dr H Muh. Ikhsan, M.Ag

Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Direktur Puncak IAIN Kendari

RAMADAN selalu dimulai dengan suara. Suara adzan yang lebih syahdu. Suara ayat-ayat yang lebih sering dilantunkan. Suara tilawah yang menggema dari masjid hingga ruang-ruang sunyi rumah. Namun pertanyaannya, apakah suara itu berhenti di telinga, atau ia menembus hingga ke jiwa?

Allah SWT menegaskan: "Bulan Ramadan adalah untuk (pertama kali) diturunkan Al Quran menjadi petunjuk bagi manusia dan penjelasan dari petunjuk itu dan sebagai pembeda (antara yang hak dan batil)" (QS. Al-Baqarah, 2: 185)

Ramadan bukan sekadar bulan puasa, tetapi bulan turunnya wahyu. Ia adalah ruang waktu ketika langit menyapa bumi dengan cahaya. Karena itu, Ramadan sejatinya bukan hanya musim tilawah, melainkan musim tajalli—musim ketika makna-makna ilahi menyingkap dalam kesadaran manusia.