Dari Musiman ke Eksistensial

Bahaya terbesar Ramadan adalah menjadikannya musiman. Tilawah meningkat selama sebulan, lalu redup sebelas bulan berikutnya. Tajalli yang sempat terasa, kembali tertutup oleh rutinitas dunia.

Padahal, tujuan Ramadan adalah melahirkan manusia qurani—mereka yang hidup bersama Al Quran, bukan hanya membacanya. Di era digitalisasi yang riuh dan penuh distraksi, menjadi Ahl Al Quran berarti menjadikan wahyu sebagai kompas etika, penyaring informasi, dan penuntun nurani.

Ramadan mengajarkan kita bahwa cahaya tidak datang dari luar, tetapi dari dalam—ketika ayat-ayat Allah menemukan ruangnya di hati.

Tilawah adalah awal. Tajalli adalah tujuan. Dan Ahl Al Quran adalah mereka yang menjadikan Ramadan bukan sekadar kalender ibadah, tetapi titik balik eksistensial.Sebab pada akhirnya, yang kita cari bukan hanya khatam bacaan, tetapi khatam kegelapan dalam diri. (*)