Penurunan kasus stunting, lanjutnya, bukanlah hal yang sederhana untuk ditangani oleh Dinas Kesehatan dan BKKBN sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi dari lintas sektor lainnya.

"Ada dua intervensi dalam kasus stunting, yaitu spesifik dan sensitif," katanya.

Asmar juga mengungkapkan, penyebab masalah stunting pada anak dikarenakan oleh pola makan masyarakat yang lebih menyukai makanan cepat saji, padahal jenis makanan tersebut belum tentu dapat memenuhi kebutuhan gizi dalam tubuh.

"Persoalannya, salah satu masalah kesehatan itu kurang konsumsi ikan. Ikannya dijual di pasar, hasilnya dipakai beli mie untuk di makan," ujarnya.

Untuk diketahui, penyumbang kasus stunting terbesar berasal dari kabupaten Buton Selatan dengan persentase 45 persen, menyusul Buton Tengah, dan Konawe Kepulauan.