"Sembari terus mencari keistimewaan apa yang Allah titipkan pada anak tersebut," lanjutnya.

Letih dan tuntutan hidup merayunya untuk status hidup yang lebih menjanjikan. Di tambah lagi di tengah ketidakpastian pengangkatan sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Seiring berjalannya waktu, PNS bukan lagi menjadi tujuan perempuan kelahiran 1972 itu. Seperti kebanyakan manusia di Indonesia, menjadi PNS semacam "keharusan".

Kini ia ingin terus bertahan selama dibutuhkan. Walau awalnya, bekerja sebagai pengajar di SLB tak pernah ia rencanakan sebelumnya.

"Yang jelasnya sepanjang anak-anak dan sekolah masih membutuhkan saya, Insyaallah saya akan tetap bertahan," tegasnya.