Anakia Wiwirano To Routa menyampaikan pesan adat yang mendalam. “Kami berdiri bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk leluhur dan generasi yang belum lahir. Tanah ini adalah kehormatan kami. Jika ruang hidup rusak, maka identitas ikut hilang,” jelasnya.

Pesan tersebut menjadi momen emosional yang mengikat seluruh peserta dalam satu tekad kolektif.

Deklarasi “Selamatkan Wilayah Adat Routa” dibacakan bersama tokoh adat, pemuda dan masyarakat. Kegiatan ditutup dengan penanaman pohon sebagai simbol komitmen perlindungan ekologis serta penandatanganan petisi dukungan.

Jamuan tradisional Mosonggi menjadi penutup yang mempererat solidaritas lintas generasi.

Bagi LAT dan masyarakat adat, tanah bukan hanya sumber ekonomi, tetapi merupakan tanah leluhur, ruang hidup dan identitas budaya yang dijaga melalui nilai-nilai adat dan simbol Kalosara.