Pro-kontra terhadap Gibran bukan soal dia cawapres semata. Tetapi sekaligus menunjukkan bahwa Jokowi sebagai penguasa politik mencoba membangun dinasti politik dalam lingkup nasional. Ia sebagai penguasa politik yang lahir dari reformasi malah yang menjadi aktor kemunduran demokrasi.
Jika Gibran dipaksakan sebagai cawapres dan mau menerimanya, artinya Gibran sekadar Anak Muda yang tampil "dikarbit", anak muda yang sekadar "anak papi", menjadi pemimpin karena bantuan orang tua.
Ia malah merusak citra dirinya sebagai sosok anak muda yang lahir karena keterpanggilan, kapabilitas, dan memang dianggap layak oleh masyarakat, seperti saat terpilih sebagai wali kota Surakarta.
Gibran saat ini terjebak karena obsesinya dan juga mengejar momentum, sebab Jokowi sebagai ayahnya dan penguasa politik saat ini akan habis masa jabatannya, sedangkan ada pemikiran untuk melanjutkan kebijakan pemerintah saat ini.
Akhirnya, obsesi keluarga Jokowi perlahan-lahan meruntuhkan nilai-nilai demokrasi seperti kompetisi dan keadilan, bahkan sudah menerobos ke sendi institusi pengawal konstitusi yakni MK.
