Massa aksi juga menyampaikan bahwa kehadiran DPR semestinya memberi perlindungan kepada rakyat, bukan justru menimbulkan keresahan.

Mereka menuding kegagalan wakil rakyat dalam menjalankan fungsi tersebut, hingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa dalam aksi sebelumnya. Ajji bahkan menyebut hal itu sebagai bentuk kelalaian.

“Harapan saya terkhusus DPRD Sulawesi Tenggara itu tidak bertindak seperti yang kita lihat saat ini, lalu ada tindakan kriminalitas yang dilakukan sehingga nyawa yang seharusnya dilindungi tidak terlaksana dengan baik, akhirnya terjadi kehilangan nyawa,” katanya.

Baca Juga: Unit Usaha Jahitan SMKN 3 Kendari Terkendala Pemasaran, 700 Seragam Belum Tersalurkan

Pantauan telisik.id di Lokasi, aksi pada Sabtu sore itu juga melibatkan berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan. Konsolidasi terus dilakukan untuk memperkuat massa menjelang aksi puncak pada Senin, 1 September 2025. Ajji menegaskan bahwa aksi tidak akan berhenti bila tuntutan mereka diabaikan.