Oleh: Efriza
Dosen Ilmu Politik di Beberapa Kampus dan Owner Penerbitan
MINGGU ini, publik dibuat terkejut dengan dinamika politik yang terjadi, seperti Demonstrasi dari warga Pati ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senayan, Jakarta, terkait dua tuntutannya yakni mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset dan harapan akan diterapkannya hukuman mati bagi koruptor.
Di sisi lain, Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi melakukan blunder politik. Ia mengaitkan demonstrasi pada 27 Agustus yang juga diikuti warga Pati sebagai upaya ‘penggulingan’ terhadap Presiden Prabowo, dengan narasi akan adanya percepatan pemilihan umum (Pemilu) 2029. Persepsi Budi Arie didasarkan insting, pengalaman aktivis, dan patahan sejarah.
Blunder ini jika hanya disampaikan Budi Arie di internal Projo diyakini hal biasa saja, meski Budi Arie pernah menjabat sebagai menteri di era Pemerintahan Prabowo. Namun, blunder Budi Arie ini terjadi dan disampaikannya saat berada disamping mantan presiden Joko Widodo (Jokowi).
