Rasa malu pernah menghantui Alsa di awal ia memulai pekerjaannya sebagai ojol. Ia khawatir bila ada teman lama yang mengenali dirinya, apalagi mengingat statusnya sebagai lulusan terbaik dari kampus ternama di Sulawesi Tenggara.

"Awalnya saya malu-malu nanti dilihat teman-temanku. Makanya itu hari saya pakai masker terus. Pernah saya dapat temanku, saya tidak angkat helmku, saya tidak bicara-bicara juga. Pokoknya banyaklah suka dukanya," tuturnya mengenang.

Alsa merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Sejak kedua orang tuanya berpisah saat ia masih bayi, ia dibesarkan oleh sang ibu seorang diri di Kabupaten Muna.

Kini, Alsa dan kedua saudaranya tinggal di Kendari untuk bekerja, sementara ibunya tetap di kampung halaman.

Komunikasi dengan sang ibu pun hanya bisa dilakukan melalui telepon biasa. Ibunya masih menggunakan ponsel lama yang tidak memiliki kamera, sehingga mereka belum bisa saling bertatap muka secara virtual.