Berawal dari Hamengku Buwono I menghadiahi Kyai Nur Iman -- yang masih tergolong kerabatnya -- sebuah tanah. Kemudian tanah itu diberi nama Mlangi, berasal dari kata Mulangi yang berarti mengajar. Sebab, daerah tersebut kemudian digunakan Kyai Nur Iman untuk mengajar agama Islam.
Memasuki wilayah Mlangi, kita menemukan dusun ini dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Warung-warung biasanya buka sore hari setelah Ashar sampai Maghrib. Buka lagi setelah salat Isya. Bahkan ada warung makanan yang buka setelah pukul 23.00 WIB.
Jam malam lebih terasa hidup dibanding siang hari. Pesantren-pesantren yang kebanyakan salafiyah dalam melaksanakan aktivitas lebih banyak malam hari.
Pada pagi hari, saat jam-jam sekolah formal, Dusun Mlangi terasa lengang. Malam Jum'at akan lebih ramai lagi karena hampir masing-masing pondok mengadakan pembacaan Barzanji dengan memakai alat musik terbang (rebana).
Identitas keislaman penduduk bukan sesuatu yang dibuat-buat. Buktinya, dapat dilihat dari cara berpakaian penduduk. Di Mlangi, para lelaki biasa memakai sarung, baju Muslim dan peci, meski tidak hendak pergi ke masjid. Sementara hampir semua perempuan di dusun ini mengenakan jilbab, di dalam maupun di luar rumah.
