Di desa wisata Mlangi, masyarakat secara dinamis dan turun-temurun mengembangkan ekonomi mereka berbasis industri rumah tangga. Hampir 90 persen penduduknya adalah wiraswasta di bidang konveksi, kerajinan, kuliner, jamu-jamuan, maupun bidang lainnya. Banyak produk tercipta dari rumah-rumah produksi di Mlangi.

Warga umumnya akan melakukan semacam upacara saat istri-istri mereka hamil, melahirkan, hingga adanya anggota masyarakat yang meninggal dunia. Tradisi slametan atau syukuran pun terjadi saat pernikahan, dolanan anak hingga tradisi sunatan dan perkawinan.

Adat kebiasaan yang mereka jalankan merupakan kolaborasi tentang keislaman dengan tradisi Jawa. Tradisi itu kemudian ditafsirkan dari perspektif Islam sebagai upaya untuk menjawab kekinian.  

Ketua tim pengembangan Desa Wisata Mlangi, Ihsan, menyebutkan, di desa wisata Mlangi ini terdapat berbagai macam kesenian rakyat. Hingga sekarang, kesenian ini masih dibudayakan oleh masyarakat setempat. Ragam jenis kesenian tersebut adalah shalawatan Jowo, kojan, seni rodad, rengeng-rengeng, berjanjen, hadrah Ngarak, simthud duror dan sebagainya.

Tidak lengkap kiranya di dalam wisata tidak ada kuliner. Di sini bisa ditemukan beraneka macam lauk-pauk yang bisa menjamu para wisatawan ketika lapar. Jika ingin mencicipi makanan yang khas, banyak panganan tradisional diproduksi dari olahan tangan santri maupun masyarakat Mlangi. Salah satu kuliner paling khas adalah opor bebek. Konon menjadi makanan kegemaran Sultan Hamengkubuwono IX kalau berkunjung ke tempat ini.