4. Membangun advokasi dan gerakan bersama antara masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan lain untuk menolak izin-izin industri ekstraktif yang dapat merusak lingkungan pesisir dan laut.

5. Mitigasi dampak wisata khususnya bagi sistem adat/kearifan lokal, masyarakatnya sekaligus aspek lingkungannya.

Tuhan memberkahi Desa Namu dengan kepingan keindahan, namun bersamanya juga ditakdirkan berselimut sumber daya ekstraksi dalam bentuk galian tambang.  Artinya eksistensi keindahan desa berhadapan dengan potensi  eksploitasi lingkungan tidak berkelanjutan. Apa yang kemudian masyarakat Desa Namu kembangkan? Jawabannya adalah “Kesadaran Bersama hidup bermartabat dalam  lingkungan lestari”.

Bagaimana kesadaran bersama tersebut bekerja, berikut faktanya. “Status” Desa Namu adalah alat tekan atau senjata perlawanan terhadap tambang talian C yang berada di desa tersebut. Keberadaan tambang galian batu ini dicermati warga dan pemukanya sebagai ancaman nyata atas keindahan alam maupun perubahan ekologi bagi  pertanian desa Namu termasuk desa sekitarnya.  

Setelah berdialektika dan menghadapi dinamika yang tidak mudah, masyarakat berhasil menekan sehingga galian C yang beroperasi di Desa Namu dapat menghentikan aktivitasnya atas eksistensi desa wisata tersebut.