Selain berdakwah, Dewa juga menggarap film dan memiliki penghasilan dari itu. Ia mengungkapkan berencana membuat film tentang Pangeran Diponegoro.

Selama masa pandemi ini, ia juga masih menjalankan aktivitas dakwahnya. Dewa mengungkap, ia kerap diberi amplop dari dakwahnya.

Bahkan, ia mengaku pernah mendapat hingga Rp 60 juta dalam satu kali dakwah. Kala itu, ia mengaku terkejut hingga ia menghubungi panitia acara. Menurutnya, saat itu ia berdakwah di suatu majelis taklim yang isinya para pengusaha Muslim.

Namun, ia tidak ingin rasa ikhlasnya hilang, di sisi lain ia juga masih memiliki bisnis. Karena itu, Dewa mengaku ingin berdakwah karena ikhlas, bukan karena tarif.

Dewa juga berpikir, guru agama seperti 'ustaz kampung' bahkan lebih berhak mendapat bayaran tinggi. Sebab, menurutnya, orang-orang lebih bersedia membayar mahal untuk sekolah dan les pelajaran lain, sementara guru ngaji kerap dibayar murah. Apalagi, rata-rata guru ngaji tidak menarifkan bayaran, dan wali murid membayar seikhlasnya.