Cerita serupa juga datang dari Elsa, pedagang siomay lainnya sekaligus ibu rumah tangga yang berasal dari Kelurahan Lapulu, Kecamatan Abeli. Ia menyayangkan keputusan pemerintah yang menurutnya kurang mempertimbangkan nasib para pedagang kaki lima.

“Kami sebenarnya sudah di situ tempat cari hidup. Seharusnya pemerintah janganmi dia larang penjual siomay di situ. Lebih bagus kasih tinggi saja pagarnya,” ujarnya.

Para pedagang ini berharap pemerintah bisa meninjau ulang kebijakan tersebut atau setidaknya memberikan solusi yang tidak mematikan mata pencaharian mereka. Bagi mereka, jembatan bukan sekadar infrastruktur penghubung, tapi juga sumber rezeki. (B)

Penulis: R Anugrah

Editor: Kardin